Kenapa Bisa Terkena Diabetes? Kenali Penyebab dan Faktor Risikonya

Kenapa Bisa Terkena Diabetes Kenali Penyebab dan Faktor Risikonya

Diabetes bukan hanya masalah karena terlalu banyak makan makanan manis. Penyakit ini terjadi ketika kadar gula darah berada di atas normal akibat gangguan produksi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Kondisi tersebut dapat berkembang secara bertahap dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari genetik, berat badan, pola hidup, usia, hingga kondisi kesehatan tertentu.

Memahami penyebab diabetes penting bukan hanya untuk membantu menjaga kadar gula darah. Bagi seseorang yang sudah mengalami diabetes, pengendalian gula darah juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan, termasuk membantu mengurangi risiko masalah pada kaki dan luka yang sulit sembuh.

Lalu, apa sebenarnya penyebab terkena diabetes? Apakah diabetes selalu disebabkan oleh pola makan? Berikut penjelasannya.

Apa yang Menjadi Penyebab Diabetes?

Secara sederhana, penyebab diabetes berkaitan dengan terganggunya fungsi insulin dan pengaturan kadar glukosa dalam tubuh. Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh pankreas dan berperan membantu glukosa dari aliran darah masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi.

Pada diabetes tipe 1, sistem kekebalan tubuh menyerang sel beta pankreas yang menghasilkan insulin sehingga tubuh mengalami kekurangan insulin yang signifikan. Diabetes tipe 2 memiliki mekanisme yang berbeda. Tubuh dapat mengalami resistensi insulin, yaitu kondisi ketika sel tubuh tidak merespons insulin secara efektif. Seiring waktu, kemampuan pankreas untuk menghasilkan insulin juga dapat menurun.

Sementara itu, diabetes gestasional dapat terjadi selama kehamilan ketika tubuh tidak mampu menghasilkan insulin yang cukup untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat selama kehamilan (American Diabetes Association Professional Practice Committee, 2026).

Artinya, penyebab diabetes tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu faktor. Diabetes merupakan kondisi multifaktorial yang melibatkan interaksi antara faktor genetik, metabolik, lingkungan, dan gaya hidup.

Penyebab Diabetes Berdasarkan Jenisnya

Tidak semua diabetes memiliki penyebab dan mekanisme yang sama. Mengenali perbedaannya membantu memahami mengapa seseorang dapat mengalami diabetes meskipun memiliki kondisi dan kebiasaan yang berbeda.

Diabetes tipe 1

Diabetes tipe 1 merupakan penyakit autoimun. Sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang sel beta pankreas yang bertugas memproduksi insulin.

Akibatnya, tubuh menghasilkan sangat sedikit atau bahkan tidak menghasilkan insulin. Karena insulin diperlukan untuk mengatur kadar glukosa dalam darah, seseorang dengan diabetes tipe 1 membutuhkan terapi insulin.

Diabetes tipe 1 tidak semata-mata disebabkan oleh konsumsi gula atau kebiasaan makan tertentu. Faktor genetik dan lingkungan diduga berperan dalam perkembangan penyakit ini (Centers for Disease Control and Prevention [CDC], 2024a).

Diabetes tipe 2

Diabetes tipe 2 merupakan bentuk diabetes yang paling banyak ditemukan. Kondisinya berkaitan dengan resistensi insulin dan gangguan kemampuan pankreas dalam memenuhi kebutuhan insulin tubuh.

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2, seperti kelebihan berat badan atau obesitas, kurang aktivitas fisik, riwayat keluarga dengan diabetes, usia, serta riwayat kondisi tertentu selama kehamilan.

Namun, penting dipahami bahwa memiliki satu atau beberapa faktor risiko tidak berarti seseorang pasti akan mengalami diabetes. Faktor-faktor tersebut hanya meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit.

Diabetes gestasional

Diabetes gestasional adalah diabetes yang pertama kali didiagnosis selama kehamilan. Perubahan hormonal selama kehamilan dapat membuat tubuh mengalami resistensi insulin. Pada sebagian ibu, pankreas tidak mampu menghasilkan insulin tambahan yang cukup untuk mengimbanginya.

Diabetes gestasional umumnya perlu dipantau karena dapat meningkatkan risiko komplikasi tertentu selama kehamilan dan persalinan serta meningkatkan risiko ibu mengalami diabetes tipe 2 di kemudian hari (CDC, 2024b).

Faktor Risiko Diabetes yang Perlu Diperhatikan

Selain memahami penyebab diabetes berdasarkan jenisnya, penting untuk mengenali faktor yang dapat meningkatkan risiko. Pada diabetes tipe 2, beberapa faktor dapat dimodifikasi, sedangkan faktor lainnya tidak dapat diubah.

1. Riwayat keluarga

Memiliki orang tua, saudara kandung, atau anggota keluarga dekat dengan diabetes dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami diabetes tipe 2.

Faktor genetik tidak berarti seseorang pasti terkena diabetes. Namun, ketika faktor genetik bertemu dengan faktor lingkungan dan gaya hidup tertentu, risikonya dapat menjadi lebih tinggi.

2. Berat badan berlebih atau obesitas

Kelebihan berat badan, terutama ketika disertai penumpukan lemak tubuh tertentu, berhubungan dengan meningkatnya risiko resistensi insulin.

Meski demikian, diabetes tipe 2 tidak hanya terjadi pada orang dengan berat badan berlebih. Orang dengan berat badan normal juga dapat mengalami diabetes karena faktor genetik, usia, distribusi lemak tubuh, aktivitas fisik, maupun faktor lainnya.

3. Kurang aktivitas fisik

Aktivitas fisik membantu tubuh menggunakan glukosa sebagai sumber energi dan dapat meningkatkan sensitivitas insulin.

Sebaliknya, pola hidup yang minim aktivitas fisik dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko diabetes tipe 2, terutama jika berlangsung dalam jangka panjang.

4. Pola makan yang kurang seimbang

Pola makan yang tinggi kalori dan rendah kualitas gizi dapat berkontribusi terhadap peningkatan berat badan dan gangguan metabolisme. Konsumsi minuman berpemanis dalam jumlah tinggi juga dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2.

Namun, menyebut makanan manis sebagai satu-satunya penyebab diabetes merupakan penyederhanaan yang tidak tepat. Diabetes terjadi akibat interaksi berbagai faktor, bukan semata-mata karena seseorang sesekali mengonsumsi gula.

5. Usia

Risiko diabetes tipe 2 cenderung meningkat seiring bertambahnya usia. Perubahan komposisi tubuh, aktivitas fisik, dan metabolisme yang terjadi dengan bertambahnya usia dapat ikut memengaruhi risiko tersebut.

Meski begitu, diabetes tipe 2 juga dapat terjadi pada usia yang lebih muda.

Baca Juga : Keluhan Diabetes: Kenali Gejala, Tanda Gula Darah Tinggi, dan Dampaknya pada Luka

Riwayat diabetes gestasional

Perempuan yang pernah mengalami diabetes gestasional memiliki risiko lebih tinggi mengalami diabetes tipe 2 di kemudian hari. Karena itu, pemantauan kesehatan setelah kehamilan tetap penting.

Riwayat prediabetes

Prediabetes merupakan kondisi ketika kadar gula darah lebih tinggi daripada normal, tetapi belum memenuhi kriteria diagnosis diabetes.

Prediabetes tidak selalu berkembang menjadi diabetes, tetapi merupakan tanda bahwa seseorang memiliki risiko lebih tinggi. Perubahan pola hidup dan pemantauan kesehatan dapat membantu mengurangi risiko perkembangan menjadi diabetes tipe 2 pada sebagian orang.

Apakah Sering Makan Manis Menjadi Penyebab Diabetes?

Pertanyaan ini sangat sering muncul.

Jawabannya: tidak sesederhana “makan gula menyebabkan diabetes”.

Konsumsi gula berlebihan, terutama jika berkontribusi terhadap kelebihan asupan kalori dan peningkatan berat badan, dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Minuman berpemanis juga menjadi perhatian karena dapat memberikan asupan gula dan kalori dalam jumlah cukup besar tanpa membuat seseorang merasa kenyang seperti makanan padat.

Namun, diabetes tipe 2 dipengaruhi banyak faktor. Genetik, berat badan, aktivitas fisik, usia, riwayat keluarga, kondisi metabolik, dan faktor lainnya juga berperan.

Jadi, mengurangi konsumsi gula merupakan bagian dari pola hidup sehat, tetapi bukan berarti seseorang yang tidak mengonsumsi makanan manis sama sekali terbebas dari risiko diabetes.

Apa Hubungan Diabetes dengan Gula Darah Tinggi?

Gula darah tinggi atau hiperglikemia merupakan karakteristik utama diabetes. Kondisi ini terjadi ketika glukosa dalam darah tidak dapat digunakan atau disimpan secara efektif oleh tubuh.

Pada diabetes tipe 2, misalnya, resistensi insulin membuat glukosa lebih sulit masuk ke dalam sel. Pankreas kemudian dapat meningkatkan produksi insulin untuk mengimbanginya. Dalam jangka panjang, kemampuan pankreas memenuhi kebutuhan tersebut dapat menurun.

Jika kadar gula darah tinggi berlangsung lama dan tidak terkontrol, berbagai organ dan pembuluh darah dapat mengalami kerusakan. Komplikasi diabetes dapat memengaruhi mata, ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah (World Health Organization [WHO], 2024).

Karena itu, pengelolaan diabetes bukan hanya tentang menurunkan angka gula darah, tetapi juga mengurangi risiko komplikasi jangka panjang.

Mengapa Diabetes Dapat Berkaitan dengan Luka yang Sulit Sembuh?

Salah satu alasan diabetes penting diperhatikan dalam perawatan luka adalah karena kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat berkaitan dengan gangguan pada pembuluh darah dan saraf.

Kerusakan saraf atau neuropati dapat menyebabkan berkurangnya sensasi pada kaki. Akibatnya, luka kecil, lecet, tekanan berulang, atau luka akibat alas kaki yang tidak sesuai dapat tidak segera disadari.

Di sisi lain, gangguan pembuluh darah dapat memengaruhi aliran darah ke jaringan. Kondisi ini dapat menghambat proses penyembuhan luka.

Inilah salah satu alasan luka pada pasien diabetes perlu mendapatkan perhatian sejak awal. Luka yang tampak kecil belum tentu dapat diabaikan, terutama jika terdapat tanda infeksi, gangguan aliran darah, atau penurunan sensasi pada kaki.

Dalam konsep modern wound care, perawatan luka tidak hanya berfokus pada membersihkan dan menutup luka. Tenaga kesehatan juga perlu mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh, termasuk kontrol diabetes, status vaskular, kondisi jaringan, infeksi, tekanan pada area luka, nutrisi, dan faktor lain yang dapat memengaruhi penyembuhan.

Tanda yang Perlu Diwaspadai pada Pasien Diabetes

Diabetes dapat berkembang tanpa gejala yang jelas, terutama pada tahap awal. Beberapa gejala yang dapat muncul antara lain:

  • sering merasa haus;
  • lebih sering buang air kecil;
  • mudah merasa lapar;
  • mudah lelah;
  • pandangan kabur;
  • luka yang membutuhkan waktu lama untuk sembuh;
  • penurunan berat badan yang tidak direncanakan pada kondisi tertentu;
  • kesemutan atau mati rasa, terutama pada tangan dan kaki.

Gejala tersebut tidak secara otomatis berarti seseorang mengalami diabetes. Pemeriksaan gula darah diperlukan untuk mengetahui kondisi seseorang secara objektif.

Pada pasien yang sudah didiagnosis diabetes, perubahan pada kulit dan kaki juga perlu diperhatikan. Luka, kemerahan, pembengkakan, lecet, perubahan warna kulit, atau keluarnya cairan dari luka sebaiknya tidak diabaikan.

Bagaimana Diabetes Didiagnosis?

Diagnosis diabetes tidak sebaiknya ditentukan hanya berdasarkan gejala. Tenaga kesehatan dapat menggunakan pemeriksaan laboratorium seperti gula darah puasa, oral glucose tolerance test (OGTT), atau HbA1c sesuai kondisi dan pedoman yang digunakan.

HbA1c memberikan gambaran rata-rata kadar gula darah selama sekitar dua hingga tiga bulan terakhir. Pemeriksaan ini berbeda dengan pemeriksaan gula darah sewaktu yang menggambarkan kadar glukosa pada saat pemeriksaan.

Jika Anda memiliki faktor risiko diabetes atau mengalami gejala yang mengarah pada gangguan gula darah, pemeriksaan medis dapat membantu memastikan kondisi secara lebih tepat.

Apa yang Dapat Dilakukan untuk Mengurangi Risiko Diabetes Tipe 2?

Tidak semua faktor risiko diabetes dapat diubah. Riwayat keluarga dan usia, misalnya, bukan sesuatu yang dapat dikendalikan.

Namun, beberapa kebiasaan dapat membantu menurunkan risiko diabetes tipe 2 dan mendukung kesehatan metabolik secara umum.

1. Pertahankan berat badan yang sehat

Jika memiliki berat badan berlebih, penurunan berat badan dalam jumlah yang realistis dan sesuai kondisi kesehatan dapat memberikan manfaat metabolik. Target sebaiknya dibicarakan dengan tenaga kesehatan, terutama jika memiliki penyakit penyerta.

2. Tingkatkan aktivitas fisik

Aktivitas fisik secara teratur membantu tubuh menggunakan energi dan dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Jenis dan intensitas aktivitas perlu disesuaikan dengan usia serta kondisi kesehatan masing-masing.

3. Perhatikan kualitas makanan

Pilih pola makan yang lebih seimbang dengan memperhatikan sayur, buah, sumber protein, biji-bijian atau sumber karbohidrat yang sesuai, serta membatasi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula secara berlebihan.

4. Hindari kebiasaan merokok

Merokok dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis dan dapat berdampak buruk terhadap kesehatan pembuluh darah. Berhenti merokok merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.

5. Lakukan pemeriksaan jika memiliki faktor risiko

Semakin dini gangguan gula darah diketahui, semakin cepat seseorang dapat mendiskusikan langkah pengelolaan yang sesuai dengan tenaga kesehatan.

Baca Juga : Ciri-Ciri Penderita Diabetes yang Perlu Dikenali Sejak Dini

Pencegahan Diabetes dan Pencegahan Luka Perlu Berjalan Bersamaan

Bagi seseorang yang sudah mengalami diabetes, menjaga kadar gula darah merupakan salah satu bagian dari upaya menjaga kesehatan kaki dan mengurangi risiko masalah luka. Namun, pencegahan luka tidak berhenti pada pengendalian gula darah.

Perhatikan kaki setiap hari, terutama jika sudah mengalami gangguan sensasi. Periksa apakah terdapat lecet, luka, kemerahan, perubahan warna, pembengkakan, atau bagian kulit yang mengalami tekanan berulang.

Gunakan alas kaki yang sesuai dan hindari berjalan tanpa alas kaki, terutama jika sensasi pada kaki sudah berkurang.

Jika terdapat luka, jangan menunggu sampai luka menjadi besar atau tampak parah. Evaluasi oleh tenaga kesehatan dapat membantu menentukan kondisi luka dan kebutuhan perawatannya.

Pendekatan modern wound care menempatkan pasien sebagai bagian penting dalam proses penyembuhan. Perawatan luka dapat disesuaikan dengan kondisi jaringan, penyebab luka, tingkat risiko infeksi, kondisi sirkulasi, penyakit penyerta, serta kebutuhan masing-masing pasien.

Kapan Luka Diabetes Perlu Mendapatkan Penanganan Profesional?

Luka pada pasien diabetes sebaiknya mendapatkan perhatian lebih serius, terutama apabila:

  • luka tidak menunjukkan perbaikan;
  • muncul kemerahan atau pembengkakan di sekitar luka;
  • keluar cairan atau nanah;
  • luka berbau;
  • kulit berubah warna;
  • muncul demam atau merasa tidak enak badan;
  • terdapat nyeri yang semakin berat atau justru mati rasa;
  • luka berada pada kaki dengan riwayat neuropati atau gangguan sirkulasi;
  • terdapat jaringan yang berubah warna menjadi hitam atau tampak mengalami kerusakan.

Pada kondisi tertentu, luka diabetes membutuhkan evaluasi yang lebih komprehensif. Perawatan dapat mencakup pembersihan luka, pemilihan dressing yang sesuai, pengendalian infeksi bila diperlukan, pengurangan tekanan pada area tertentu, serta pengelolaan faktor yang menghambat penyembuhan.

Semua tindakan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi pasien dan dilakukan berdasarkan evaluasi tenaga kesehatan.

Kesimpulan

Penyebab diabetes tidak hanya berkaitan dengan konsumsi makanan manis. Diabetes merupakan kondisi kompleks yang dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, gangguan insulin, berat badan, aktivitas fisik, usia, riwayat keluarga, kehamilan, serta berbagai faktor kesehatan lainnya.

Memahami faktor penyebab dan risiko diabetes dapat membantu seseorang mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga kesehatan. Bagi pasien yang sudah mengalami diabetes, perhatian juga perlu diberikan pada kesehatan kaki dan kondisi kulit karena gangguan saraf serta pembuluh darah dapat meningkatkan risiko masalah luka.

Jika terdapat luka yang tidak kunjung membaik, terutama pada pasien diabetes, jangan menunggu sampai kondisinya memburuk. Evaluasi oleh tenaga kesehatan dapat membantu menentukan penyebab dan kebutuhan perawatan luka secara tepat.

CuraMedica menyediakan layanan perawatan luka profesional di rumah (homecare) maupun di klinik. Perawatan dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan pendekatan modern wound care yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.

Referensi

  1. American Diabetes Association Professional Practice Committee. (2026). 2. Diagnosis and classification of diabetes: Standards of Care in Diabetes-2026. Diabetes Care, 49(Supplement_1). https://doi.org/10.2337/dc26-S002
  2. Centers for Disease Control and Prevention. (2024a). About type 1 diabetes. https://www.cdc.gov/diabetes/about/about-type-1-diabetes.html
  3. Centers for Disease Control and Prevention. (2024b). Gestational diabetes. https://www.cdc.gov/diabetes/about/gestational-diabetes.html
  4. Centers for Disease Control and Prevention. (2024c). Diabetes risk factors. https://www.cdc.gov/diabetes/risk-factors/index.html
  5. World Health Organization. (2024). Diabetes. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/diabetes
  6. World Health Organization. (2023). Diabetes: Key facts. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/diabetes

Bagikan

Tim medis profesional CuraMedica yang berkomitmen memberikan edukasi kesehatan terpercaya, tips pencegahan komplikasi, serta solusi perawatan luka modern yang aman dan higienis.

Artikel Terbaru

Jenis Layanan

Layanan Perawatan Luka Kami

Menangani berbagai jenis luka dengan pendekatan holistik dan metode terkini.

Konsultasi Gratis Sekarang

Kirim foto luka Anda untuk konsultasi awal gratis. Tim medis kami akan memberikan rekomendasi perawatan yang tepat.