Gatal karena diabetes dapat muncul di berbagai bagian tubuh. Namun, keluhan ini cukup sering dirasakan pada kulit yang mengalami kekeringan, terutama pada tungkai dan kaki. Pada sebagian penderita, gatal juga dapat muncul di lengan, tangan, punggung, atau area tubuh lainnya. Jadi, tidak ada satu lokasi khusus yang dapat memastikan bahwa gatal disebabkan oleh diabetes.
Kulit gatal pada penderita diabetes dapat berkaitan dengan kadar gula darah yang tidak terkontrol, kulit kering, gangguan saraf, sirkulasi darah yang kurang baik, maupun infeksi kulit. Karena itu, mengenali lokasi dan karakteristik gatal saja belum cukup untuk menentukan penyebabnya.
Bagi penderita diabetes, keluhan kulit sebaiknya tidak diabaikan. Rasa gatal dapat mendorong seseorang menggaruk kulit berulang kali hingga menyebabkan lecet atau luka. Pada kondisi tertentu, luka yang terjadi pada kaki atau tungkai dapat membutuhkan perhatian lebih karena diabetes dapat memengaruhi proses penyembuhan luka.
Dimana letak gatal karena diabetes?
Gatal karena diabetes dapat terjadi di hampir seluruh bagian tubuh. Tidak ada pola lokasi yang mutlak pada setiap penderita. Meski demikian, beberapa area lebih sering mengalami keluhan karena kondisi kulit kering, gangguan sirkulasi, neuropati, atau masalah kulit lain yang berkaitan dengan diabetes.
Beberapa lokasi yang dapat mengalami gatal antara lain:
- Tungkai dan kaki: sering berkaitan dengan kulit yang kering, gangguan sirkulasi, neuropati perifer, atau masalah kulit lainnya.
- Tangan dan lengan: dapat mengalami kulit kering atau kelainan kulit yang menyebabkan rasa gatal.
- Punggung dan badan: rasa gatal dapat muncul akibat kulit kering atau kondisi dermatologis lain.
- Area genital: diabetes dapat meningkatkan risiko infeksi jamur, terutama ketika kadar gula darah tinggi, sehingga dapat disertai gatal dan iritasi.
- Area sekitar luka: kulit yang sedang mengalami proses penyembuhan atau mengalami iritasi juga dapat terasa gatal.
Dengan demikian, lokasi gatal diabetes tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menyimpulkan bahwa seseorang mengalami diabetes atau bahwa gatal tersebut disebabkan oleh diabetes. Penyebab lain, seperti eksim, alergi, infeksi jamur, penyakit kulit, efek obat, atau kondisi medis tertentu, juga perlu dipertimbangkan.
Mengapa diabetes bisa menyebabkan kulit gatal?
Diabetes dapat memengaruhi kulit melalui beberapa mekanisme. Salah satu yang cukup umum adalah kulit menjadi lebih kering. Ketika kadar glukosa darah tinggi, tubuh dapat kehilangan lebih banyak cairan melalui urine. Kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap kekeringan kulit pada sebagian penderita.
Selain itu, diabetes dalam jangka panjang dapat menyebabkan perubahan pada saraf dan pembuluh darah. Gangguan saraf atau neuropati perifer dapat menimbulkan sensasi abnormal, termasuk rasa terbakar, kesemutan, atau sensasi gatal. Gangguan sirkulasi juga dapat memengaruhi kesehatan kulit, terutama pada tungkai dan kaki.
Masalah kulit pada penderita diabetes tidak selalu disebabkan langsung oleh kadar gula darah. Diabetes juga dapat meningkatkan kerentanan terhadap beberapa infeksi kulit. Misalnya, infeksi jamur pada area yang lembap dapat menimbulkan rasa gatal, kemerahan, atau iritasi.
Karena penyebabnya beragam, penanganan gatal perlu disesuaikan dengan kondisi kulit dan penyebab yang mendasarinya.
Penyebab kulit gatal pada penderita diabetes
Keluhan gatal pada seseorang yang menderita diabetes dapat berasal dari lebih dari satu faktor. Berikut beberapa kemungkinan yang perlu diketahui.
1. Kulit kering
Kulit kering atau xerosis merupakan salah satu penyebab umum rasa gatal. Kulit dapat terasa kasar, bersisik, pecah-pecah, dan semakin gatal setelah mandi dengan air yang terlalu panas atau menggunakan sabun yang membuat kulit semakin kering.
Pada penderita diabetes, kulit kering perlu diperhatikan terutama pada kaki. Kulit yang sangat kering dan pecah dapat menjadi pintu masuk bagi mikroorganisme dan meningkatkan risiko terjadinya masalah kulit.
2. Neuropati perifer
Neuropati perifer merupakan salah satu komplikasi diabetes yang dapat memengaruhi saraf, terutama pada kaki. Keluhannya dapat berupa kesemutan, rasa terbakar, nyeri, mati rasa, atau perubahan sensasi.
Pada sebagian orang, perubahan fungsi saraf juga dapat menyebabkan sensasi kulit yang tidak biasa. Akibatnya, rasa yang dirasakan sebagai gatal belum tentu berasal dari kelainan pada permukaan kulit.
Kondisi ini menjadi penting dalam perawatan luka diabetes karena penurunan sensasi dapat membuat seseorang tidak menyadari adanya lecet, luka akibat tekanan, atau cedera kecil pada kaki.
3. Gangguan sirkulasi
Diabetes dapat meningkatkan risiko penyakit pembuluh darah perifer. Berkurangnya aliran darah ke tungkai dapat memengaruhi kesehatan kulit dan jaringan.
Kulit pada tungkai atau kaki dapat menjadi lebih kering dan mudah mengalami perubahan. Apabila terdapat luka, gangguan aliran darah juga menjadi salah satu faktor yang perlu dievaluasi karena suplai darah berperan dalam proses penyembuhan.
4. Infeksi jamur
Kadar gula darah yang tinggi dapat meningkatkan risiko terjadinya beberapa infeksi, termasuk infeksi jamur pada kondisi tertentu. Infeksi jamur dapat menimbulkan gatal, kemerahan, rasa terbakar, atau perubahan pada kulit.
Area yang lembap dan memiliki lipatan kulit lebih rentan mengalami masalah ini. Pada perempuan, misalnya, infeksi jamur pada area genital dapat menyebabkan gatal dan keputihan dengan karakteristik tertentu.
Namun, gatal pada area genital tidak selalu disebabkan oleh infeksi jamur. Pemeriksaan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan penyebab yang tepat.
5. Kondisi kulit lain
Penderita diabetes juga dapat mengalami penyakit kulit yang tidak secara langsung disebabkan oleh diabetes. Eksim, dermatitis kontak, alergi, psoriasis, atau reaksi terhadap produk perawatan kulit dapat menyebabkan rasa gatal.
Karena itu, jangan menganggap setiap rasa gatal sebagai tanda bahwa kadar gula darah sedang tinggi.
Apakah gatal merupakan tanda diabetes?
Gatal dapat muncul pada penderita diabetes, tetapi gatal saja bukan tanda yang cukup untuk mendiagnosis diabetes.
Seseorang yang belum pernah didiagnosis diabetes dan mengalami gatal tidak dapat menyimpulkan bahwa dirinya menderita diabetes hanya berdasarkan keluhan tersebut. Diagnosis diabetes memerlukan evaluasi medis dan pemeriksaan kadar glukosa darah sesuai indikasi.
Sebaliknya, pada seseorang yang sudah memiliki diabetes, munculnya gatal yang menetap atau disertai perubahan kulit perlu diperhatikan. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya kulit kering, infeksi, gangguan saraf, atau masalah kulit lainnya.
Beberapa tanda yang lebih khas berkaitan dengan diabetes dapat meliputi sering haus, sering buang air kecil, mudah lapar, penurunan berat badan yang tidak direncanakan, mudah lelah, penglihatan kabur, serta luka yang sulit sembuh. Namun, sebagian orang dengan diabetes juga dapat tidak merasakan gejala yang jelas.
Baca Juga : Ciri-Ciri Penderita Diabetes yang Perlu Dikenali Sejak Dini
Hubungan gatal diabetes dengan risiko luka
Rasa gatal mungkin terlihat sebagai masalah kulit yang sederhana. Pada penderita diabetes, dampaknya dapat menjadi lebih penting ketika gatal menyebabkan kebiasaan menggaruk.
Menggaruk kulit secara terus-menerus dapat menimbulkan goresan, lecet, atau luka terbuka. Jika sensasi kaki sudah berkurang akibat neuropati, penderita mungkin tidak menyadari bahwa kulit telah mengalami cedera.
Masalah menjadi lebih kompleks ketika luka berada pada kaki dan disertai faktor lain seperti tekanan berulang, infeksi, atau gangguan sirkulasi. Kondisi tersebut dapat menghambat proses penyembuhan dan meningkatkan risiko berkembang menjadi luka kronis.
Karena itu, prinsip perawatan luka modern tidak hanya berfokus pada luka yang sudah terbentuk. Pencegahan kerusakan kulit, pemeriksaan kaki secara rutin, pengendalian faktor risiko, serta identifikasi masalah sejak dini merupakan bagian penting dari perawatan penderita diabetes.
Apa yang dapat dilakukan saat kulit terasa gatal?
Jika gatal masih ringan dan tidak disertai luka atau tanda infeksi, beberapa langkah perawatan kulit dapat membantu menjaga kondisi kulit.
1. Jaga kelembapan kulit
Gunakan pelembap secara teratur, terutama setelah mandi ketika kulit masih sedikit lembap. Pilih produk yang sesuai dengan kondisi kulit dan tidak menimbulkan iritasi.
Untuk kaki, pelembap dapat digunakan pada kulit yang kering. Hindari mengoleskan pelembap di sela-sela jari kaki apabila area tersebut lembap karena kelembapan berlebihan dapat meningkatkan risiko masalah kulit tertentu.
2. Hindari menggaruk
Menggaruk dapat memperburuk iritasi dan menyebabkan kulit terluka. Bila gatal muncul, usahakan tidak menggaruk dengan kuku. Menjaga kuku tetap pendek juga dapat mengurangi risiko cedera ketika tanpa sadar menggaruk kulit.
3. Perhatikan kondisi kaki setiap hari
Penderita diabetes, khususnya yang memiliki neuropati, sebaiknya memeriksa kaki secara rutin. Perhatikan apakah terdapat kemerahan, lecet, kulit pecah, kapalan, perubahan warna, bengkak, atau luka.
Pemeriksaan sederhana ini penting karena luka kecil dapat tidak terasa ketika sensasi pada kaki sudah menurun.
4. Hindari penggunaan obat secara sembarangan
Jangan langsung menggunakan krim antijamur, kortikosteroid, antibiotik, atau obat kulit lainnya tanpa mengetahui penyebab gatal. Obat yang tidak sesuai dapat memperburuk kondisi tertentu atau menutupi gejala yang sebenarnya perlu diperiksa.
Jika gatal menetap, berulang, semakin berat, atau disertai perubahan kulit, sebaiknya konsultasikan kepada tenaga kesehatan.
Kapan gatal karena diabetes perlu diperiksakan?
Gatal sebaiknya mendapatkan evaluasi profesional apabila tidak membaik, sering kambuh, mengganggu tidur atau aktivitas, atau disertai perubahan pada kulit.
Perhatian khusus diperlukan apabila muncul:
- luka atau lecet akibat garukan;
- kulit pecah atau berdarah;
- kemerahan yang semakin luas;
- pembengkakan;
- kulit terasa panas atau nyeri;
- keluar cairan dari luka;
- nanah atau bau tidak sedap;
- perubahan warna kulit;
- demam;
- mati rasa atau berkurangnya sensasi pada kaki;
- luka pada kaki yang tidak menunjukkan perbaikan.
Pada penderita diabetes, luka kaki sebaiknya tidak dirawat dengan cara coba-coba, terutama jika terdapat tanda infeksi atau gangguan sirkulasi. Evaluasi tenaga kesehatan diperlukan untuk menentukan kondisi luka, faktor yang menghambat penyembuhan, serta rencana perawatan yang sesuai.
Perawatan luka diabetes membutuhkan pendekatan menyeluruh
Perawatan luka diabetes bukan sekadar membersihkan luka dan mengganti dressing. Tenaga kesehatan perlu menilai kondisi luka secara menyeluruh, termasuk ukuran dan kedalaman luka, kondisi jaringan, tanda infeksi, kelembapan luka, kondisi kulit di sekitarnya, tekanan pada area luka, serta faktor sistemik yang dapat memengaruhi penyembuhan.
Pada kondisi tertentu, evaluasi juga dapat mencakup status sensasi kaki dan sirkulasi. Pengendalian diabetes tetap menjadi bagian penting karena kadar glukosa darah yang tidak terkontrol dapat berkaitan dengan berbagai komplikasi yang memengaruhi kesehatan jaringan dan penyembuhan luka.
Pendekatan modern wound care berupaya memilih metode perawatan berdasarkan kondisi masing-masing luka, bukan menggunakan satu metode yang sama untuk semua pasien. Jenis dressing, frekuensi perawatan, dan tindakan lain ditentukan berdasarkan hasil evaluasi klinis.
Peran keluarga dan caregiver juga penting. Mereka dapat membantu pasien mengamati perubahan pada kulit dan kaki, mengingatkan jadwal perawatan, membantu menjaga kebersihan, serta memastikan pasien mendapatkan evaluasi ketika muncul tanda yang mengkhawatirkan.
Cara mencegah masalah kulit dan luka pada penderita diabetes
Pencegahan merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan kulit penderita diabetes. Beberapa kebiasaan yang dapat dilakukan antara lain:
- Periksa kaki secara rutin, termasuk telapak dan sela-sela jari.
- Jaga kulit tetap lembap, terutama pada area yang mudah kering.
- Hindari berjalan tanpa alas kaki, khususnya jika sensasi pada kaki berkurang.
- Gunakan alas kaki yang sesuai dan tidak memberikan tekanan berlebihan.
- Jangan memotong kapalan atau mata ikan sendiri menggunakan benda tajam.
- Jaga kebersihan kulit dan kaki tanpa menggosok terlalu keras.
- Hindari air yang terlalu panas saat mandi.
- Kelola diabetes sesuai anjuran tenaga kesehatan.
- Segera periksakan luka kecil apabila tidak membaik atau menunjukkan tanda infeksi.
- Lakukan pemeriksaan rutin apabila memiliki komplikasi diabetes seperti neuropati atau gangguan sirkulasi.
Kebiasaan tersebut tidak hanya membantu menjaga kesehatan kulit, tetapi juga dapat membantu mengurangi risiko terjadinya luka pada kaki.
Baca Juga : Cara Mengetahui Terkena Diabetes: Kenali Gejala dan Pemeriksaannya
Kesimpulan
Jadi, dimana letak gatal karena diabetes? Gatal dapat muncul di berbagai bagian tubuh dan tidak memiliki satu lokasi yang khas. Tungkai dan kaki merupakan area yang perlu mendapat perhatian, terutama pada penderita diabetes yang mengalami kulit kering, neuropati, atau gangguan sirkulasi. Gatal juga dapat terjadi pada tangan, lengan, punggung, maupun area genital, tergantung penyebabnya.
Yang lebih penting daripada mengetahui lokasi gatal adalah memahami penyebabnya. Kulit kering, gangguan saraf, masalah sirkulasi, infeksi, dan berbagai penyakit kulit lain dapat menimbulkan keluhan serupa.
Bagi penderita diabetes, jangan menunggu sampai kulit mengalami luka untuk mulai memperhatikannya. Jika gatal menyebabkan lecet, terdapat luka yang sulit membaik, atau muncul tanda infeksi, evaluasi oleh tenaga kesehatan sebaiknya dilakukan lebih awal.
CuraMedica menyediakan layanan perawatan luka profesional di rumah (homecare) maupun di klinik untuk membantu menangani berbagai kondisi luka, termasuk luka diabetes, sesuai hasil evaluasi dan kebutuhan masing-masing pasien. Penanganan yang tepat sejak dini dapat menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan kulit, mendukung proses penyembuhan, dan mempertahankan kualitas hidup pasien.


