Diabetes merupakan penyakit kronis yang dapat memengaruhi berbagai organ dan fungsi tubuh apabila kadar gula darah tidak terkontrol dalam jangka panjang. Kabar baiknya, sebagian kasus diabetes tipe 2 dapat dicegah atau ditunda melalui perubahan gaya hidup dan pengelolaan faktor risiko sejak dini. Karena itu, memahami cara mencegah diabetes penting bukan hanya bagi orang yang memiliki faktor risiko, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin menjaga kesehatan dalam jangka panjang.
Pencegahan diabetes tidak berarti seseorang harus menjalani pola hidup yang ekstrem. Langkah seperti memperbaiki pola makan, lebih aktif bergerak, menjaga berat badan yang sehat, tidak merokok, tidur cukup, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat menjadi bagian dari strategi pencegahan (Centers for Disease Control and Prevention [CDC], 2024).
Bagi bidang perawatan luka, pencegahan diabetes juga memiliki arti penting. Diabetes yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi, termasuk masalah pada saraf dan pembuluh darah yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko terjadinya luka kaki diabetik. Karena itu, menjaga kesehatan metabolik sejak dini merupakan salah satu bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.
Mengapa Diabetes Perlu Dicegah Sejak Dini?
Diabetes terjadi ketika kadar glukosa dalam darah terlalu tinggi. Pada diabetes tipe 2, tubuh dapat mengalami resistensi insulin sehingga insulin tidak bekerja secara efektif. Seiring waktu, kemampuan tubuh menghasilkan insulin juga dapat menurun.
Diabetes tipe 2 berkembang melalui interaksi berbagai faktor, termasuk faktor genetik, usia, berat badan, aktivitas fisik, pola makan, dan kondisi kesehatan tertentu. Tidak semua faktor risiko dapat diubah, tetapi beberapa di antaranya dapat dikelola melalui perubahan gaya hidup (World Health Organization [WHO], 2024).
Pencegahan menjadi semakin penting karena diabetes dapat berlangsung tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Seseorang dapat memiliki kadar gula darah yang tinggi tanpa merasa sakit sehingga tidak menyadari adanya gangguan metabolisme.
Selain itu, kadar gula darah yang tinggi dan berlangsung lama dapat berhubungan dengan komplikasi pada pembuluh darah, saraf, mata, ginjal, dan organ lainnya. Pada pasien yang sudah mengalami diabetes, pengendalian gula darah juga merupakan bagian penting dari upaya mengurangi risiko komplikasi kaki dan luka yang sulit sembuh.
Cara Mencegah Diabetes yang Dapat Dilakukan Sehari-hari
Tidak ada satu langkah yang dapat menjamin seseorang terbebas dari diabetes. Namun, beberapa kebiasaan berikut dapat membantu menurunkan risiko diabetes tipe 2, terutama pada orang yang memiliki faktor risiko.
1. Terapkan pola makan yang lebih sehat
Pola makan memiliki peran penting dalam menjaga berat badan dan kesehatan metabolik. Prinsipnya bukan menghilangkan semua jenis karbohidrat, melainkan memperhatikan kualitas dan jumlah makanan yang dikonsumsi.
Usahakan untuk memperbanyak:
- sayuran;
- buah dalam porsi yang sesuai;
- sumber protein seperti ikan, telur, kacang-kacangan, dan sumber protein rendah lemak lainnya;
- biji-bijian utuh;
- makanan tinggi serat.
Sebaliknya, batasi konsumsi makanan dan minuman yang tinggi gula tambahan, makanan ultra-proses, serta makanan yang tinggi kalori tetapi rendah nilai gizinya.
Minuman manis perlu mendapat perhatian khusus. Konsumsi minuman berpemanis secara berlebihan dapat meningkatkan asupan kalori dan berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2 (Malik et al., 2010).
Contoh sederhana adalah mengganti kebiasaan minum teh atau kopi dengan tambahan gula berlebihan menjadi minuman tanpa gula atau dengan jumlah gula yang lebih sedikit.
2. Lebih aktif bergerak
Aktivitas fisik membantu tubuh menggunakan glukosa sebagai energi dan dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Aktivitas fisik juga membantu menjaga berat badan serta memberikan manfaat bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah.
WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas fisik aerobik intensitas sedang setidaknya 150–300 menit per minggu atau aktivitas intensitas berat 75–150 menit per minggu, disertai aktivitas penguatan otot secara teratur (WHO, 2020).
Aktivitas tersebut tidak harus selalu berupa olahraga di pusat kebugaran. Jalan cepat, bersepeda, berenang, senam, atau aktivitas fisik lain yang sesuai dengan kondisi tubuh dapat menjadi pilihan.
Jika Anda banyak duduk saat bekerja, cobalah menyisipkan aktivitas singkat sepanjang hari. Misalnya, berjalan kaki beberapa menit, menggunakan tangga bila memungkinkan, atau melakukan peregangan setelah duduk dalam waktu lama.
3. Pertahankan berat badan yang sehat
Kelebihan berat badan atau obesitas merupakan salah satu faktor risiko diabetes tipe 2 yang penting. Pada individu yang mengalami kelebihan berat badan, penurunan berat badan dalam jumlah tertentu dapat membantu memperbaiki kontrol metabolik dan menurunkan risiko berkembangnya diabetes tipe 2.
Program Diabetes Prevention Program menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup yang mencakup penurunan berat badan dan peningkatan aktivitas fisik dapat secara bermakna menurunkan risiko diabetes tipe 2 pada orang dengan risiko tinggi (Knowler et al., 2002).
Karena itu, tujuan pengelolaan berat badan tidak perlu selalu berupa perubahan yang drastis. Perubahan yang realistis dan dapat dipertahankan dalam jangka panjang lebih penting daripada diet ketat yang hanya dilakukan dalam waktu singkat.
4. Hindari atau berhenti merokok
Merokok bukan hanya berkaitan dengan penyakit paru dan jantung. Bukti penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara merokok dan peningkatan risiko diabetes tipe 2 (Pan et al., 2015).
Berhenti merokok merupakan salah satu langkah penting untuk meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Bagi orang yang kesulitan berhenti, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan strategi yang sesuai.
5. Tidur yang cukup dan teratur
Tidur sering kali kurang mendapat perhatian ketika membahas pencegahan diabetes. Padahal, kualitas dan durasi tidur berkaitan dengan kesehatan metabolik.
Kurang tidur secara terus-menerus maupun pola tidur yang tidak teratur dapat berhubungan dengan gangguan metabolisme dan peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan.
Karena itu, usahakan memiliki jadwal tidur yang konsisten dan memberikan waktu istirahat yang cukup bagi tubuh. Jika terdapat masalah tidur yang menetap, seperti sulit tidur atau mengantuk berlebihan pada siang hari, evaluasi medis dapat dipertimbangkan.
Baca Juga : Kenapa Bisa Terkena Diabetes? Kenali Penyebab dan Faktor Risikonya
6. Kenali Faktor Risiko Diabetes
Pencegahan diabetes menjadi lebih penting apabila seseorang memiliki faktor risiko tertentu.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 antara lain:
- memiliki kelebihan berat badan atau obesitas;
- kurang melakukan aktivitas fisik;
- memiliki orang tua atau saudara kandung dengan diabetes tipe 2;
- berusia lebih tua;
- pernah mengalami diabetes gestasional;
- memiliki tekanan darah tinggi;
- memiliki kondisi tertentu yang berkaitan dengan gangguan metabolisme;
- memiliki riwayat kadar kolesterol atau trigliserida yang tidak sehat.
Riwayat keluarga penting diperhatikan karena faktor genetik dapat berperan dalam risiko diabetes. Namun, memiliki riwayat keluarga bukan berarti seseorang pasti mengalami diabetes. Faktor gaya hidup dan lingkungan juga berperan.
Pada ibu yang pernah mengalami diabetes gestasional, pemantauan kesehatan setelah melahirkan juga penting karena kondisi tersebut berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2 di kemudian hari (American Diabetes Association Professional Practice Committee, 2024).
Perlukah Melakukan Pemeriksaan Gula Darah?
Pemeriksaan gula darah dapat membantu mengetahui kondisi metabolisme seseorang, terutama jika terdapat faktor risiko diabetes.
Beberapa pemeriksaan yang digunakan dalam evaluasi diabetes dan kondisi pradiabetes antara lain pemeriksaan glukosa plasma puasa, glukosa plasma dua jam setelah tes toleransi glukosa oral, dan HbA1c. Interpretasi hasil pemeriksaan perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi klinis dan pedoman yang berlaku.
Seseorang tidak sebaiknya menunggu munculnya keluhan untuk memeriksakan diri. Diabetes tipe 2 dapat berkembang secara perlahan dan pada sebagian orang tidak menimbulkan gejala yang jelas pada awalnya (CDC, 2024).
Jika Anda memiliki faktor risiko diabetes, diskusikan dengan dokter mengenai apakah pemeriksaan gula darah diperlukan dan seberapa sering pemeriksaan perlu dilakukan.
Hubungan Pencegahan Diabetes dengan Kesehatan Luka
Mengapa pembahasan tentang cara mencegah diabetes relevan dengan perawatan luka?
Salah satu alasannya adalah diabetes dapat berdampak pada saraf dan pembuluh darah. Pada orang yang telah mengalami diabetes, gangguan saraf perifer dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan merasakan nyeri atau cedera pada kaki. Kondisi tersebut dapat membuat luka kecil tidak segera disadari.
Diabetes juga dapat berkaitan dengan gangguan sirkulasi dan proses penyembuhan luka. Kombinasi beberapa faktor tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah kaki diabetik.
Karena itu, pencegahan diabetes dan pengendalian faktor risiko merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan kaki dalam jangka panjang.
Bagi seseorang yang sudah memiliki diabetes, pencegahan komplikasi dilakukan melalui pendekatan yang lebih menyeluruh, termasuk pengelolaan gula darah, pemeriksaan kaki secara berkala, penggunaan alas kaki yang sesuai, perawatan kulit dan kuku yang aman, serta penanganan luka sedini mungkin apabila terjadi.
Kebiasaan Sederhana untuk Menjaga Kesehatan Kaki
Bagi orang dengan diabetes, perhatian terhadap kaki perlu menjadi bagian dari rutinitas perawatan diri.
Beberapa kebiasaan yang dapat dilakukan antara lain:
- memeriksa kondisi kaki secara rutin;
- memperhatikan adanya luka, lecet, kemerahan, bengkak, atau perubahan warna;
- menjaga kebersihan kaki;
- menjaga kulit agar tidak terlalu kering;
- menggunakan alas kaki yang sesuai;
- tidak berjalan tanpa alas kaki, terutama apabila sensasi kaki berkurang;
- tidak mengorek kapalan atau mata ikan sendiri dengan benda tajam;
- segera berkonsultasi apabila terdapat luka yang tidak membaik.
Perawatan sederhana tersebut tidak menggantikan evaluasi medis, terutama apabila sudah terdapat gangguan saraf, sirkulasi, atau luka.
Baca Juga : Diabetes Mulai Umur Berapa? Kenali Usia, Faktor Risiko, dan Kaitannya dengan Luka
Kapan Harus Mendapatkan Bantuan Tenaga Kesehatan?
Perubahan gaya hidup merupakan bagian penting dari pencegahan diabetes, tetapi bukan satu-satunya langkah. Evaluasi tenaga kesehatan diperlukan apabila Anda memiliki faktor risiko yang cukup banyak, hasil pemeriksaan gula darah tidak normal, atau mengalami keluhan yang mengkhawatirkan.
Bagi pasien diabetes, luka pada kaki juga perlu mendapat perhatian khusus. Jangan menunggu luka menjadi besar atau semakin dalam sebelum mencari pertolongan.
Segera lakukan evaluasi profesional apabila terdapat luka yang tidak membaik, kemerahan yang semakin luas, pembengkakan, keluar cairan atau nanah, perubahan warna kulit, nyeri yang tidak biasa, atau kondisi kaki yang tiba-tiba berubah.
Penanganan luka yang lebih dini dapat membantu tenaga kesehatan menilai penyebab masalah dan menentukan perawatan yang sesuai dengan kondisi pasien.
Kesimpulan
Cara mencegah diabetes pada dasarnya dimulai dari kebiasaan yang dilakukan secara konsisten. Menerapkan pola makan sehat, rutin bergerak, menjaga berat badan, tidak merokok, tidur cukup, serta melakukan pemeriksaan kesehatan apabila memiliki faktor risiko merupakan langkah yang dapat membantu menurunkan risiko diabetes tipe 2.
Pencegahan juga memiliki kaitan dengan kesehatan luka. Diabetes yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi, termasuk masalah pada saraf dan kaki yang dapat membuat luka lebih sulit ditangani. Karena itu, menjaga kesehatan metabolik sejak dini merupakan bagian dari upaya menjaga kualitas hidup secara keseluruhan.
Jika Anda sudah memiliki diabetes dan mengalami luka, terutama pada kaki, jangan menunggu kondisi memburuk. Evaluasi oleh tenaga kesehatan dapat membantu menentukan kondisi luka dan kebutuhan perawatan yang sesuai.
CuraMedica menyediakan layanan perawatan luka profesional di rumah (homecare) maupun di klinik untuk berbagai kondisi, termasuk luka diabetes, luka kronis, luka pasca operasi, luka pasca caesar, luka kanker, luka tekan, dan luka perineum. Penanganan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing pasien dan kebutuhan perawatan lukanya.


